UNTUK SEORANG IBU
IBU, TERIMA KASIH
Kujejaki langkah demi langkah kakiku, meninggalkan sejuta hamparan kenangan akan semua yang telah mengubah hidupku. Kenangan yang memuat sejuta kisah antara dia, aku dan hal yang membuat diriku menjadi aku yang sekarang. Kenangan yang dulu bagiku adalah sebuah ketidakadilan yang selalu mengusik setiap detak nafas yang ingin kuhirup. Membuat hari yang seharusnya cerah dengan hembusan angin yang melegakan menjadi hari yang kelam dan mengusik jiwa. Tetapi itu aku yang dulu, aku yang sekarang merindukan dia dan semua kenangan yang dulu untuk mengusik jiwa ku kembali yang kini merasakan kekosongan.
“Nenta...Nenta... belajar sayang”, itu adalah kata yang selalu keluar dari bibirnya yang tipis dan lembut untukku. Aku merindukan kata itu kembali dan mengusik hari-hariku yang kini semakin hari semakin tiada makna yang terpendam di dalamnya. Aku yang kini menyadari bahwa dia adalah orang yang sangat menyanyagiku. Karena rasa sayangnya, ia bahkan mampu menjadi seperti bodyguard yang akan selalu ada di sampingku. Menjadi jam weker untuk selalu mengingatkan waktu ku. Dia dalah malaikat terindah yang telah Tuhan berikan dalam hidup ku.
Dia adalah ibuku. Orang yang selalu tangguh menghadapi sifatku yang keras dan tidak peduli akan hidupku.
“Ahhhh... ngak mau, Aku malas!”
Kata yang selalu keluar dari mulutku yang kasar dan tidak pernah menghargai makna dari nasehat yang selalu dia berikan. Namun dengan lembut dia akan membalas sikapku yang tidak pernah sadar akan kesalahan ku.
“Nak, untuk menjadi orang yang sukses, kamu harus rajin belajar”.
Sekarang,
aku yang jauh dari dia merindukan semua nasehat itu kembali. Aku yang dituntut
untuk berjuang sendiri di negeri orang tanpa dia yang selalu ada di sampingku
dan memberikanku nasehat untuk membuatku lebih baik.
Jauh
dari dia bukanlah keinginan ku. Akan tetapi, keadaan yang menuntutku untuk
melakukannya untuk pendidikan yang lebih baik.
“Tidak usah khawatir sayang, kamu akan baik-baik saja di sana. Ibu percaya, kamu akan menjadi orang yang membanggakan ibu.”
Dengan berat dia melepas kepergianku ke negeri yang tidak pernah kujejaki. Menatapku dengan mata yang sembab di depan pintu rumah, tempat aku dibesarkan dengan ribuan alunan doa yang selalu dia panjatkan.
“Ibu, aku pergi”
Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutku yang tidak dapat terbuka lebar seperti yang biasa kulakukan untuk membantah semua nasehatnya. Mulutku seperti dipenuhi dengan perekat yang sangat kuat dengan beban yang hampir tidak dapat kupikul. Hanya deraian air mata yang dapat keluar dari kedua mataku yang tidak kalah lembab dengan dia yang sedang menatapku dengan cinta yang sangat dalam.
Kulangkahkan kakiku untuk keluar dari rumah penuh kenangan itu, tetapi rasanya badanku telah membeku dan hampir tidak mampu bergerak. Namun, dengan langkah yang begitu berat aku semakin jauh dan semakin jauh dari dia.
Masih segar diingatanku akan kenangan itu. Hari dimana aku memulai hidupku dengan semua bekal yang dari awal telah ditabur dengan cinta oleh ibuku. Saat dimana aku memulai pertarunganku dengan dunia luar yang tidak kuketahui. Dunia yang bagiku terasa asing karena dikelilingi oleh mereka yang tidak aku kenal dan jauh berbeda dari orang-orang yang ada di sekitarku sebelumnya. Aku yang terbiasa dengan ibu yang selalu memanjakanku di rumah sehingga dunia luar tidak menjadi hal yang manarik bagi ku.
Awal
perjuanganku menjadi langkah yang paling berat. Tangisan dalam kesendirian dulu
adalah hal yang tidak pernah terjadi karena dia yang selalu di sampingku. Tapi kini
tangis itu sudah berubah, menjadi bayangan yang selalu mengikuti langkahku disaat
aku sendiri. Selalu menghantuiku di tengah keramaian orang-orang yang masih
saja terasa asing bagi ku.
Namun aku bersyukur, taburan yang telah dipersiapkan ibu ku selama 18 tahun kini menuaikan hasil. Nasihat yang dulu aku anggap sebagai omelan yang sangat membosankan, kini yang menjadi arah dari setiap perjalanan ku. Saat aku melakukan segala sesuatu, aku mengingat kata yang selalu ternyiang diingatanku.
“Nak, jangan lupa untuk selalu berdoa. Apapun yang kamu lakukan, mulailah dengan rasa syukur dan dan doa kepada Tuhan”.
Saat aku merasa malas melakukan tugas dalam perkulihan, nasihat ibu yang kembali mengingatkan aku bahwa untuk menjadi orang yang sukses, aku harus rajin belajar.
Semuanya kini terasa berjalan dengan baik dengan nasehat yang selalu mengingatkan aku disetiap langkah kaki ku. Walau kini aku hanya dapat mendengar nasehat-nasehatnya melalui suara deringan telepon, tetapi aku bersyukur masih bisa mendengar nasihat-nasihat itu kembali walau tidak serutin yang dulu lagi.
Kasih
sayang ibu yang tidak terbantahkan waktu kini yang membuat aku mampu berdiri
tegak ditengah perjuangan untuk menggapai mimpiku. Membuat aku menjadi pribadi
yang dewasa dan bertanggung jawab dalam setiap tindakanku. Kini selama hidupku,
satu impian yang ingin kucapai yaitu membuat dia menjadi orang yang paling
beruntung karena memiliki aku di dalam hidupnya.
Comments
Post a Comment