AKHIR DARI KEAKUANKU

SECARIK SURAT UNTUK “AKU”

Umurku sekarang sudah 19 tahun. Dan kau tahu, selama 19 tahun itu aku selalu menjadikanmu sebagai yang utama dalam hidup ini. Aku tidak pernah berpikir untuk menjadikan orang lain menggantikan posisimu bahkan orang tuaku sendiri pun tidak. Aku selalu berusaha untuk membuatmu bahagia dan tidak mengeluarkan setetes air mata tanpa alasan yang masuk akal. Bagiku air matamu adalah hal yang sangat berharga. Sangking berharganya, aku rela melakukan apapun untuk menghindari hal tersebut.
Sejak aku mengenal persaingan, kau selalu ingin menjadi pemenang dan menjadi pemain utama dan segala hal. Dalam perlombaan kau selalu mau mengambil bagian walaupun itu bukanlah menjadi bagianmu. Disaat ada peluang terhadap sesuatu kau selalu berusaha untuk mengungguli orang lain. Aku tidak keberatan dengan hal tersebut. Namun kadang itu terasa melelahkan. Terutama jika kau yang tidak bisa tenang menerima keadaan yang harus diterima. Kau selalu berontak dan meminta untuk dinomor satukan.
Karena keinginanmu yang kadang begitu besar, aku bahkan rela melakukan hal-hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Salah satu contoh pada saat kau ingin mendapatkan nilai yang baik, aku bahkan rela melakukan hal curang karenamu. Lebih dari itu, kau selalu menuntunku untuk bisa melakukan segala sesuatu. Pada awalnya bersamamu terasa menyenangkan karena selalu ada yang memberikan semangat dan dukungan. Akan tetapi lama kelamaan, kau seperti menindasku dengan keinginanmu.
Tidak hanya sampai di situ. Terkadang aku ingin melakukan hal yang baik. Tapi kau selalu berkata bahwa itu bukanlah tugasku. Itu adalah tugas orang lain yang memiliki banyak hal dalam hidup. Karena omonganmu itu, aku menjadi orang yang tidak peka dengan keadaan sekitarku. Tidak peduli dengan orang lain dan tidak tahu harus melakukan apa untuk orang-orang disekitarku yang mungkin memerlukan bantuan. Aku hanya selalu memikirkanmu, ya hanya kamu yang selalu ada dalam pikiranku.
Aku berusaha untuk membahagiakanmu, melakukan apa maumu. Tapi terkadang kau terlalu membuka hati untuk setiap orang yang menghampirimu. Kau selalu meresponi apa yang mereka katakan kepadamu. Kau akan bahagia saat orang datang dan berkata kau hebat. Akan tetapi kau akan terpuruk jika ada yang mengataimu. Dan untuk itu aku pun harus bertanggung jawab terhadapmu karena kau adalah orang terdekatku. 
Saat kau sedang sakit hati karena keinginanmu yang tidak kunjung terkabul, kau memintaku untuk berhenti melakukan segala kegiatanku. Kau juga yang menyuruhku untuk melupakan tentang kepatuhan dan pegangan yang kupercayai. Kau selalu berkata bahwa itu bukanlah salahmu, itu adalah salah orang lain dan salah dia yang tidak menjadikan keinginanmu. Dan lemahnya aku yang hanya bisa menuruti keinginanmu.
Aku telah menyerahkan segalanya kepadamu. Aku memberikan kendali sepenuhnya kepadamu tanpa merasa ragu sedikitpun. Aku pikir kau pintar dan mampu membawaku pada tempat yang kuingini. Tapi kau justru membawaku ke tempat yang tidak pernah aku datangi. Tempat yang kau datangi memberi racun dan menusukkan duri dalam dagingku. Tapi aku selalu setia dan percaya kepadamu. 
Kalau hingga kini aku masih belum bisa melepaskan mu dan selalu menjadikanmu yang utama, itu adalah keputusanku sendiri. Aku tahu walaupun kau yang memegang kendali atas ku, tapi aku masih tetap memiliki otoritas atas diriku. Sekarang aku ingin melepaskanmu karena kau dan aku tidak pernah cocok. “AKU” Pergilah karena kau bukan menjadi pilihan terbaik dalam hidupku. Aku telah menemukan yang lain selain dirimu yang pantas untuk dijadikan yang utama bagiku.

Comments

Popular posts from this blog

JIKA AKU LEMAH MAKA AKU KUAT

UNTUK SEORANG IBU