CERITA SEORANG RAJA


SERUAN UNTUK LANGIT

          Hari ini seperti biasanya, pagi-pagi buta aku segera berangkat ke tempat kerja. Tidak ada alasan bagiku untuk berlama-lama di tempatku yang sekarang, karena aku memang tidak pernah punya alasan untuk itu dan tidak akan pernah. Hembusan angin pagi ini setidaknya membuatku sedikit menikmati awal dari hariku yang akan panjang. 
Di perjalanan aku menemukan beberapa orang yang menatap  aneh terhadapku. Aku tidak pernah tahu alasannya mengapa mereka menatapku demikian. Tapi ya sudahlah, ini adalah kesekian puluh ribu kali aku melihat tatapan yang demikian jadi bagiku tidak terasa begitu mengganggu. Saat aku sedang berjalan di sebuah jalan yang sempit, beberapa orang yang lewat lansung membukakan jalan untukku. Aku tertawa karena orang-orang ternyata sangat menghargai aku hingga mereka selalu membukakan jalan untukku. Bahkan beberapa ada yang berbalik dan tidak melanjutkan perjalanannya karena aku yang sedang melewati tempat tersebut.
Belum habis tawaku karena kejadian tersebut, aku teringat akan satu hal. Seandainya orang tuaku tidak terlalu sibuk dan tahu akan hal ini, mereka pasti akan bahagia melihatku. Sepanjang perjalanan pikiranku dipenuhi tentang hal tersebut. Setelah beberapa lama di perjalanan, aku menemukan tempat yang tepat untukku bekerja. Tempat yang tepat untukku bekerja memang sangat mudah untuk ditemukan. Aku hanya membutuhkan tempat yang dikerumuni oleh banyak orang dan aku siap untuk menunjukkan talenta yang aku miliki.
Dengan sebuah keroncong kecil yang terikat di leherku aku mulai menelusuri keramaiaan jalan sambil membawa sebuah kaleng yang kosong. Aku selalu berharap dengan suara yang menurutku cukup unik ini dapat memenuhi kaleng kosong yang sedang kubawa. Akan tetapi sikap mereka yang selalu memperlakukanku bak seorang raja membuatku kadang tidak mampu memenuhi kalengku. Bagaimana tidak, belum sempat aku menunjukkan keahlianku, mereka semua seakan-akan telah sepakat untuk lari sejauh mungkin dariku. Aku kadang berpikir, mengapa mereka harus menakuti seorang raja? Aku juga orang biasa. Aku tidak butuh orang lain membuka jalan selebar mungkin untukku pada saat aku sedang berjalan. Aku juga tidak butuh tatapan yang selalu berbeda dari setiap orang yang melihatku. Aku hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan aku.
Seandainya orangtuaku tidak terlalu sibuk dengan kegiatan mereka, pasti aku tidak akan ditinggalkan ditempat penampungan bayi pada saat aku berusia satu minggu. Pasti saat ini aku memiliki tempat untuk cerita. Pasti saat ini juga aku tidak perlu kembali ketempat tinggalku yang penuh dengan kotoran. Aku tidak punya alasan untuk kembali kesana, tapi keadaan memaksaku. Senyum getir tersirat di wajahku sambil berkata setidaknya langit masih mendengar seruan hati seorang miskin seperti aku.

Comments

Popular posts from this blog

JIKA AKU LEMAH MAKA AKU KUAT

UNTUK SEORANG IBU