ALBUM FOTO
ALBUM FOTO
Bibirku terus saja
membentuk lengkungan ke atas sejak membuka satu persatu lembaran album masa
kecilku. Walaupun tidak semua gambar yang ada di dalam album itu mengingatkanku
pada kenangan indah, tapi tetap saja aku bahagia melihat masa kecilku yang pebuh
dengan perjuangan.
Saat membuka lembar berikutnya, tiba-tiba
mataku menangkap satu foto yang tidak kalah menarik. Di Gambar tersebut aku
berada diantara dua teman masa kecilku yang sekarang aku tidak tahu keberadaan
mereka. Tentu saja aku tidak tahu, gambar ini diambil saat aku berusia tujuh
tahun beberapa saat sebelum aku dibawa oleh keluarga yang mengadopsiku. Saat
itu aku masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dan semuanya terjadi
begitu saja.
“Panti asuhan kita akan segera digusur oleh
pemilik dari tanah ini” kata kepala panti asuhan kepada para pekerja di panti
asuhan tempatku tinggal.
“Bagaimana mungkin kita membiarkan itu
terjadi, kita harus melakukan perlawanan. Hidup puluhan anak yang tinggal di
panti asuhan ini ada di tangan kita. Bagaimana mungkin kita menelantarkan
mereka di jalanan” kata salah satu pekerja tidak terima dengan berita yang baru
saja dia dengar.
“Kita tidak bisa melakukan perlawanan
apapun. Tanah ini memang miliki mereka. Kalau kita memberontak, perkara ini
akan dibawa ke pengadilan. Saya tahu kalian khawatir akan masa depan anak-anak
itu, tapi kita tidak bisa melakukan apapun. Kita juga tidak memiliki biaya yang
cukup jika ingin membuka panti asuhan baru. Untuk makan saja kita kadang
kekurangan” jelas kepala panti asuhan kepada pekerjanya.
“Tidak …, kita harus melakukan sesuatu untuk
anak-anak itu. Tidak mungkin kita membiarkan mereka menjadi anak gelandangan
yang tidak punya tempat tinggal. Setidaknya kita harus mencari orang tua yang
bisa mengadopsi mereka sebelum tempat ini akan diruntuhkan” jawab pekerja yang
tadi tidak terima dengan penggusuran tempat kami.
Semenjak pertemuan itu rasanya tempat
tinggal kami tidak pernah tenang. Banyak anak-anak yang terus menangis tidak
ingin pisah dari teman-temannya dan banyak juga yang takut tidak akan menemukan
keluarga baru dan menjadi gelandangan di luar sana. Salah satunya adalah aku.
Sudah beberapa hari sejak pertemuan tersebut, tetapi aku masih belum dapat
keluarga yang mau mengadopsiku. Hingga satu hari sebelum penggusuran dilakukan
akhirnya ada keluarga yang mau mengadopsiku.
“Marco …” teriak salah satu pekerja di panti
asuhan tersebut. “Akhirnya ada keluarga yang mau datang melihatmu. Ayo segera
bersiap-siap, kmu harus berpenampilan rapi”. Aku hanya bisa mengangguk
mengikuti perintah pekerja tersebut. Walaupun aku seperti dijadikan bahan
dagangan yang harus terlihat menarik, tapi saat itu aku tidak mengerti banyak
hal. Aku hanya bisa mengikuti perintah demi kebaikanku.
“Baik, kami akan mengadopsi anak ini. Supaya
tidak menunggu terlalu lama kami akan membawanya sekarang juga” kata seorang
pria yang sebentar lagi akan menjadi keluarga baruku.
“baiklah, kami akan mempersiapkan
pakaiannya. Ayo Marco, berikan salam untuk orang tua baru kamu” kata pekerja
panti asuhan tersebut kepadaku.
Dengan langkah yang ragu aku mulai maju dan
menyalami pria tersebut. “Kamu tidak perlu takut nak, kita akan segera jadi
keluarga dan kamu akan memanggilku ayah”.
“Ba ba baik” jawabku terbata-bata pada pria
tersebut.
“Ayo kita mengambil fotomu bersama dengan
teman-teman yang lain”. Dan sejak saat itu hidupku mengalami begitu banyak
perubahan.
Kembali kupandangi beberapa foto lainnya.
Foto pertamaku bersama keluarga yang sudah mengadopsiku. Aku sangat bersyukur
karena mereka yang telah mengadopsiku karena memperlakukanku seperti anak
sendiri. Tuhan tidak mengaruniakan mereka anak, dan aku bersyukur karena
menjadi bagian dari keluarga mereka.
Perjalananku tidaklah mudah karena saat
menginjak umur remaja ayah sudah sakit-sakitan dan ibu hanya bekerja sebagai
ibu rumah tangga. Mau tidak mau aku juga harus bekerja keras walau hanya untuk
membantu pekerjaan yang bisa aku lakukan. Mendatangi rumah-ke rumah untuk
menanyakan pekerjaan seperti mencuci kendaraan tetangga, membersihkan taman
mereka dan hampir semua pekerjaan yang bisa aku lakukan. Semuanya aku lakukan
sambil memperjuangkan sekolahku yang sudah berada di ujung tanduk.
Hingga di lembar terakhir album ini, aku
juga masih saja tersenyum memandangi satu persatu gambar diriku. Ya, sekarang
aku sedang memandang fotoku yang kemarin baru saja diambil saat aku menjadi
pembicara di salah satu seminar. Dengan kerja keras dan dukungan dari ayah dan
ibu, sekarang aku sudah membuka beberapa perusahaan elektronik rumah tangga.
Semua kerja keras yang aku lakukan selama ini tidak ada yang sia-sia. Dan aku
bersyukur untuk semua yang pernah aku lalui karena merekalah yang membuatku
menjadi kuat dan menjadi orang yang seperti saat ini.
Comments
Post a Comment