ARTI SAHABAT

 

ARTI SAHABAT

          Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini adalah pengumuman kelulusan siswa siswi Sekolah Menengah Pertama Louanne Education. Semua orang tua dan anak-anak yang datang ke sekolah terlihat sangat bahagia. Akhirnya setelah penantian panjang selama 3 tahun mereka bisa menerima hasil kerja keras mereka selama ini.

          Begitu juga dengan Shein dan Rein. Mereka adalah dua sahabat yang sudah kenal sejak kelas 1 Sekolah Dasar. Saat lulus dari sekolah dasar mereka memilih sekolah yang sama dengan alasan agar bisa selalu bersama. Dan akhirnya hari ini mereka juga akan lulus dari tingkat SMP bersama-sama.

          “Rein …” terdengar teriakan dari jarak yang cukup jauh.

          “Iya Shein, ada apa” tanya Rein juga dengan teriakan karena memang jarak mereka yang cukup jauh.

          “ayo kita foto bersama” balas Shein sambil berlari ke arah Rein.

          “ayo … nanti fotonya bisa jadi kenang-kenangan untuk kita” jawab Rein dengan semangat.

          Cekrek … Cekrek suara dari kamera yang mereka gunakan.

          “Oh ya Rein, habis ini kamu akan milih sekolah dimana? Kalau aku mama papa bilang aku akan pergi keluar kota ke sekolah yang lebih bagus”

          “hmmm … masih belum tau Shein, mungkin aku sekolah di sekitar sini saja. Orang tuaku nggak mampu kalau harus menyekolahkan aku sampai keluar kota apa lagi di sekolah yang mahal” jelas Rein dengan wajah yang sedih.

          “yahhh, berarti kita nggak bisa bareng lagi dong. Padahal aku ma uterus bareng kamu” sungut Shein yang juga sedih mendengar jawaban dari Rein.

          “kita masih tetap bisa berkomunikasi kok. Kan bisa kirim pesan atau kalau kamu mau kita bisa saling kirim surat kalau lagi kangen” jelas Rein memberikan solusi terhadap masalah mereka.

          “ohh iya, kalau gitu janji ya nanti kamu jangan lupain aku” kata Shein dengan penuh semangat.

          “tentu saja … kita kan sahabat, aku nggak mungkin lupain kamu. Aku justru khawatir kamu yang bakal lupain aku kalau udah punya teman di luar kota nanti” ejek Rein sambil bercanda.

          “nggak mungkin lah, aku pasti selalu ingat kamu”.

          Setelah liburan berakhir dan tahun ajaran dimulai akhirnya Shein dan Rein sekolah terpisah. Shein pindah ke kota dan bersekolah di sekolah yang cukup mahal karena orang tuanya yang memang berada. Sedangkan Rein melanjutkan sekolahnya di daerah yang tidak jauh dari rumahnya dan dengan biaya yang masih bisa dijangkau oleh orang tuanya.

          Meskipun Rein hanya sekolah di tempat yang fasilitasnya tidak terlalu memadai, tetapi dia tetap bekerja keras dan selalu rajin belajar. Akhirnya karena kerja keras yang dia lakukan pada tahun kedua pembelajaran dia mendapat beasiswa untuk pindah sekolah di luar kota di tempat yang lebih baik.

          “Akhirnya aku bisa bertemu dengan Shein lagi. Dia pasti terkejut karena aku tiba-tiba pindah ke sekolahnya. Aku akan bawa beberapa foto kami kemarin saat pengumuman kelulusan, pasti Shein senang” gumam Rein dalam hati dengan bahagia.

          Sesampainya di sekolah barunya, Rein langsung mencari dimana keberadaan Shein.

          “Shein … akhirnya aku menemukanmu. Bagaimana kabarmu, sudah hampir satu tahun kita udah nggak pernah ketemu. Kamu juga dalam satu tahun ini nggak ada kabar sama sekali” Ucap Zein penuh semangat karena akhirnya bertemu sahabatnya.

          “kamu kenal anak ini Shein? Tanya salah satu anak yang berada di dekat Shein.

          “emmm, maaf teman-teman sepertinya aku ada urusan sebentar” kata Shein kepada teman-teman yang ada di sampingnya sambil pergi dan menarik tangan Rein.

          “kamu kok tiba-tiba ada di sini sih. Panggil-panggil nama ku lagi” kata Shein dengan ketus.

          “Lah, emang kenapa kalau aku panggil nama kamu. Ada yang salah. Kita kan memang saling kenal. Kamu bahkan sahabatku” ucap Rein masih tidak mengerti dengan tingkah laku Shein yang agak aneh.

          “kalau di sekolah kamu pura-pura aja nggak lihat aku. Aku nggak mau teman-teman ku tau kalau kita saling kenal apalagi pernah dekat” ucap Shein kembali tanpa melihat ke arah Rein.

          “Emang aku salah apa sampai kamu marah Shein. Dulu kamu bilang kita akan selalu bersama dan kamu nggak akan lupain aku” tanya Rein kembali karena tidak habis paham dengan jalan pikiran Shein.

          “udah deh, kamu nggak usah banyak tanya, yang penting kalau kamu ketemu aku, pura-pura nggak kenal aja” ucap Shein sambil melangkah pergi meninggalkan Rein.

          “Kamu dari mana aja sih Shein, kami tungguin kok lama banget” ucap salah satu teman Shein yang sedang menunggunya.

          “Aku tadi ada urusan bentar” jelas Shein berbohong.

          “Kamu kenal sama anak yang tadi. Katanya dia anak pindahan yang dapat beasiswa gitu. Tapi kalau dilihat-lihat dari pakaiannya dia kayaknya orang kampungan. Pakaiannya lusuh gitu, malu-maluin aja” Kata salah satu teman Shein.

          “Nggak mungkin lah aku kenal sama anak kayak gitu. Udah yuk kita masuk kelas. Bel bentar lagi bakal berbunyi” ucap Shein terbata-bata.

          Setelah kejadian tersebut Rein dan Shein tidak pernah berkomunikasi kembali. Shein sengaja selalu menjauh dari Rein agar tidak diketahui oleh teman-temannya. Sedangkan Rein, walaupun sedih karena mendapati sahabatnya ternyata telah berubah banyak, namun dia tetap berdoa yang terbaik untuk Shein.

          Beberapa bulan berlalu, tiba-tiba ada kejadian pencurian handphone di kelas yang ditempati oleh Shein. Karena kejadian tersebut akhirnya semua tas anak-anak digeledah termasuk tas Shein. Dan ternyata barang yang tersebut didapati di dalam tas Shein.

          “ohhh, jadi kamu yang curi. Aku kira selama ini kamu anak yang baik. Ternyata kamu malah mencuri barangku” ucap salah satu teman Shein yang selama ini dengan dengan dia.

          “bukan aku pelakunya. Aku nggak mungkin berani mencuri apalagi kita teman dekat” jelas Shein sambil ketakutan.

          “Kamu masih berani mengelak, sudah jelas-jelas barangnya ada di dalam tas kamu. emang barangnya bergerak sendiri kalau bukan kamu yang mengambil” gertak teman Shein yang lainnya.

          “Bukan dia pelakunya” tiba-tiba suara terdengar dari belakang kerumunan banyak orang.

          “Heeehhh, siapa kamu berani ikut campur urusan orang. Dasar orang miskin” ejek salah satu teman dari Shein.

          “Aku melihat sendiri kalau kamu yang meletakkan handphone mu di dalam tas Shein, kemudian kamu bilang kalau handphone dicuri oleh orang lain” jelas Rein tidak mau mengalah dengan gertakan lawannya.

          “Hee, kamu bukan siapa-siapa di sini. Mending kamu urus sendiri urusanmu dan jangan ganggu urusan orang lain” usir teman Shein tersebut.

          “Ini aku punya bukti kalau bukan Shein yang menjadi pelakunya. Kamu sengaja kan mau menuduh Shein karena selama ini dia lebih pintar daripada kamu. Aku sudah mendengar semua. Aku juga beberapa kali dengar kalian mengolok-ngolok Shein kalau kalian lagi di toilet” jelas Rein yang sudah kesal dengan tingkah anak-anak tersebut.

          “Ayo Shein kita pergi dari sini, kamu nggak usah mikirin teman-teman yang seperti itu” kata Rein sambil menarik pergi tangan Shein. “lhoo kok malah nangis”

          “Maaf Rein selama ini aku udah jahat sama kamu. Aku udah nggak menganggap kamu teman lagi tapi kamu tetap menganggap aku sahabatmu. Aku minta maaf” ucap Shein sambil menangis.

          “Enggak masalah Shein, kan kita sahabat. Apapun yang akan kamu lakukan, aku akan selalu menjadi teman kamu” ucap Rein sambil memeluk Shein.

          “terima kasih Rein, kamu memang sahabat yang paling baik”.

Comments

Popular posts from this blog

JIKA AKU LEMAH MAKA AKU KUAT

UNTUK SEORANG IBU